HIDAYAH PEMUDA MASJID WADAH BERKREASI DAN BERDAKWAH

Hasil Donatur Bln.Juli 2016 : RT 01/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.131.000 ;RT 02/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.405.000 ;RT 03/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.417.000 ;RT 04/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.390.000; RT 06/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.90.000; RT 07/I kel.Karangpilang Surabaya :Rp.235.000; RT 02/II kel.Karangpilang Surabaya :Rp.100.000; RT 04/II kel.Karangpilang Surabaya :Rp.140.000; RT 05/II kel.Karangpilang Surabaya :Rp.70.000; Perorangan: 1.Sulthan Gentengkali Sby Rp 50.000; 2.Sari Tawangsari Sda Rp 20.000 SALURKAN DONASI ANDA MELALUI REKENING YAYASAN MASJID AL HIDAYAH dengan no.Rek :0612067040(BANK JATIM)

Sabtu, 22 Oktober 2016

RESOLUSI JIHAD (sejarah yang di terlupakan atau SENGAJA di lupakan?)

Resolusi Jihad N.U


Indonesia  tanggal 17 agustus 1945, namun belum genap 1 bulan usia kemerdekaan, Indonesia langsung mendapat ujian yg berat. Tentara sekutu yang membonceng tentara Belanda mendarat di jakarta dan kota-kota besar lainya di Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta berupaya melakukan upaya DIPLOMATIK untuk mendorong tentara sekutu bekerja profesional hanya mengurus tahanan saja dan tidak mengutak ngatik Status kemerdekaan Indonesia, namun upaya itu tidak membuahkan hasil.
Bung Karno galau saat itu, beliau menganalisa bila sampai terjadi peperangan secara Sistematis, Indonesia pasti tidak akan bisa mengalahkan tentara sekutu, karena persenjataan mereka jauh lebih lengkap dan keahlian militernya lebih memadai.
Atas saran dari Panglima Besar Jenderal SUDIRMAN,  Bung Karno di minta untuk mengirim utusan Khusus kepada Roisul akbar Nadhatul 'Ulama (Ketua Umum NU) yaitu Hadrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari  di Pondok Pesantren Tebu ireng Jombang. TUJUANYA untuk meminta FATWA kepada Kyai Hasyim tentang bagaimana Hukumnya BERJIHAD membela negara yang notabene bukan negara islam seperti Indonesia.
Kyai Hasyim lantas memanggil K.H. Wahab Hasbullah dari Tambak Beras Jombang. Kyai Wahab di minta untuk mengumpulkan para Ketua NU se Jawa-Madura untuk membahas persoalan ini, bukan hanya itu saja, mbah Kyai Hasyim juga meminta kepada para Kyai-Kyai Khos (utama) NU, untuk melakukan Sholat istiqoroh, salah satunya adalah mbah Kyai Abbas dari Pon-Pes Buntet Cirebon Jawa Barat.

Tanggal 22 oktober 1945 seluruh Delegasi NU Sejawa & Madura telah berkumpul di Kantor Pusat Ansor di Jl. Bubutan surabaya.
Kyai Hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian di lanjutkan oleh Kyai Wahab. Setelah berdiskusi yang cukup panjang dan mendengarkan hasil istikhoroh para kiyai utama NU, pada esok siangnya tanggal 22 oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yang kemudian di kenal dengan istilah RESOLUSI JIHAD NU.
Resolusi Jihad N.U



Isinya :
  Pertama :
SETIAP MUSLIM , TUA, MUDA DAN MISKIN SEKALIPUN WAJIB MEMERANGI ORANG KAFIR YANG MERINTANGI KEMERDEKAAN INDONESIA.
Ke-dua :
PEJUANG YANG MATI DALAM PERANG KEMERDEKAAN LAYAK DIANGGAP SYUHADA' (mati syahid)
Ke-tiga :
WARGA YANG MEMIHAK KEPADA BELANDA DIANGAP MEMECAH BELAH KESATUAN DAN PERSATUAN OLEH KARENA ITU HARUS DI HUKUM MATI.



 Dokumen Resolusi JIHAD di tulis dalam huruf ARAB-JAWA atau di sebut huruf PEGON, yang di tandatangi oleh K.H Hasyim Asy'ari, lalu di sebarluaskan keseluruh jaringan pesantren, tak terkecuali kepada para Komandan LASKAR HIZBULLAH & SABILILLAH di seluruh penjuru Jawa dan Madura. 

Dokument Resolusi Jihad juga di muat dalam sejumlah media masa pergerakan pada masa itu, hanya berselang 3 hari pasca RESOLUSI JIHAD di cetuskan, 6.000 tentara sekutu mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap.

Mendengar kedatangan pasukan PENJAJAH, RIBUAN SANTRI, MUJAHIDIN & PARA KIYAI Sejawa Timur bergerak menuju SURABAYA dan situasi pun terus memanas dan cenderung tidak terkendali.RESOLUSI JIHAD NU telah memompa semangat PERALAWANAN RAKYAT dan MEMICU TERJADINYA PERTEMPURAN HEBAT selama 3 hari 3 malam di Surabaya, tanggal 27 sampai tanggal 29 oktober 1945. Tentara Inggris KEWALAHAN menghadapi perlawanan RAKYAT JAWA TIMUR.

Inggris lantas mendatangkan SOEKARNO ke Surabaya untuk di ajak berunding melakukan gencatan senjata. Pagi hari tanggal 30 oktober gencatan senjata di tandatangani pemerintah INDONESIA dan INGGRIS, namun pada sore harinya terjadi insiden di jembatan merah  yang menewaskan orang no.1 tentara inggris di surabaya yaitu JENDRAL MALLABI, gencatan senjatapun langsung berakhir.
Pengganti Jenderal Mallabi yaitu Jendral ROBERT MANSION mengultimatum laskar pejuang dan tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada inggris paling lambat 10 november 1945, jika TIDAK inggris mengancam akan membumi hanguskan SURABAYA dan MEMBOMBARDIR Surabaya dari 3 arah sekaligus LAUT, DARAT dan UDARA.

Mendengar ancaman itu, para komandan LASKAR HIZBULLOH, SABILILLAH, MUJAHIDIN, TKR dan PARA SANTRI marah besar.
seorang pemuda bernama Soetomo atau yang lebih akrab di panggil BUNG TOMO, sowan kepada Kiyai Hasyim, meminta izin untuk menyebarluaskan­ RESOLUSI JIHAD MELALUI RADIO. Pada Pidato Bung Tomo.

K.H. ahmad Muchid Muzadi (Pemuda Anshor 1945 dari Jember Jawa Timur) Mengatakan : " Hai.. Tentara inggris, ayo kita berperang, kita ini tidak takut, kalau mati kita syahid, kalau hidup kita akan menjadi bangsa yang merdeka ".

Pasukan terdepan yang bertempur di Surabaya adalah : 

 (1). Laskar Hizbullah yang di pimpin oleh K.H. Zainal Arifin, dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Wafat di Jakarta.
(2). Laskar Sabilillah yang di pimpin oleh K.H. Masykur, dari Pon-Pes Mishbahul Wathon (Pelita Tanah Air) Singosari Malang Jawa Timur.
(3). Barisan Mujahidin Indonesia yang di pimpin oleh
K.H. Wahab Hasbullah Pon-Pes Tambak beras Jombang Jawa Timur.
(4). PETA Sebagian besar Batalionnya di pimpin oleh Para Kyai NU.
(5). Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Resolusi Jihad NU (Sejarah yang terlupakan) Cukup di sayangkan, karena Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 Tidak tercatat dalam Sejarah Resmi Indonesia. Ada upaya untuk menghilangkan jejak peran para Santri dan Kyai dalam memperjuangkan kemerdekaan. Hal itu di duga terkait dengan kebijakan Rasionalisasi, Nasionalisasi dan Modernisasi TKR, yang mengakibatkan para Milisi terdepak dari TKR. Walau sedikit kecewa pada pemerintah saat itu, tapi para pejuang NU tetap sadar bahwa mereka berjuang bukan untuk pemerintah, tapi membela negara dan tanah air, mereka tetap setia dengan Resolusi Jihad dan tetap selalu menjaga serta membela NKRI.
Mereka tidak pernah berfikir untuk melawan pada pemerintah yang sah, apalagi memberontak dan KUDETA. Bahkan mereka berperang lagi menghadapi Agresi Militer Belanda tahun 1947-1948.
Semoga yang gugur membela NKRI menjadi Syuhadak..
 
Aamiin...

Dan berikut ini  DETIK-DETIK  "RESOLUSI JIHAD NAHDLATUL ULAMA":

 17 Agustus 1945
Siaran berita proklamasi kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa siatuasi revolusioner tanpa komando. Rakyat berinisiatif mengambil alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang.

31 Agustus 1945
Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan kelahiran ratu Belanda Wilhelmina Armgard.

17 September 1945
KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah, fatwa ini merupakan penjelasan atas pertanyaan presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

19 September 1945
Terjadi insiden tembak menembak di hotel Oranje, seorang kader pemuda Ansor bernama Cak Asy'ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru sehingga hanya tertinggal merah putih.

23-24 September 1945
Terjadi perebutan dan pengambil alihan senjata dari markas dan gudang-gudang Jepang oleh laskar-laskar rakyat termasuk Hizbullah.

25 September 1945
Bersamaan dengan situasi Surabaya yang semakin mencekam, laskar Hizbullah Surabaya di pimpin oleh kh. Abdun Nafik melakukan konsolidasi untuk membentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya Tengah, Barat, Selatan dan Timur.

21-22 Oktober 1945
PBNU menggelar rapat konsul Nu se Jawa dan Madura yang di gelar di kantor Holdsbestuur Nahdotul Ulama di jalan Bubutan V1 no 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di akhir pertemuan pada tanggal 22 oktober 1945 akhirnya mengeluarkan sebuah resolusi jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy'ari.

25 Oktober 1945
Sekitar 6000 pasukan Inggris yang tergabung dalam brigade ke-49 Devisi ke 26 India mendarat di Surabaya. Pasukan ini di pimpin oleh Brigjend AWS Mallaby. Pasukan ini di boncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

26 Oktober 1945
Terjadi perundingan lanjutan mengenai genjatan antara pihak Surabaya dan pasukan sekutu, hadir dalam perundingan itu brigjends AWS Mallaby dan jajaran dari pihak Surabaya di wakili Sudirman, Dul Arnowo, Radjamin Nasution (walikota Surabaya) dan Muhammad.

27 Oktober 1945
Mayjen DC Hawtorn bertindak sebagai panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk Jawa, Madura, Bali, Lombok menyebarkan pamflet melalui udara menegaskan kekuasaan Inggris di Surabaya dan pelarangan memegang senjata selain bagi mereka yang menjadi pasukan Inggris, jika ada yang memeggangnya dalam pamflet tersebut bahwa Inggris memiliki alasan untuk menembaknya. Laskar Hizbulloh dan para pejuang Surabaya marah dan langsung bersatu menyerang Inggris pasukan Inggris pun balik menyerang dan terjadi pertempuran di penjara Kalisosok yang ketika itu berada dalam penjagaan pejuang Surabaya.

28 Oktober 1945
Laskar Hizullah dan para pejuang lainnya berbekal senjata hasil rampasan dari Jepang, bambu runcing dan crulit melakukan serangan frontal terhadap pos-pos dan markas pasukan Inggris. Inggris kewalahan menghadapi gelombang kemarahan rakyat dan massa yang semakin menjadi-jadi.

29 Oktober 1945
Terjadi baku tembak terbuka dan peperangan masal di sudut-sudut kota Surabaya. Pasukan Hizbullah Surabaya Selatan mengepung pasukan Inggris yang ada di gedung HBS, BPM, Stasiun kereta api SS
dan kantor Kawedanan. Kesatuan Hizbullah dari Sepanjang bersama TKR dan Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) mengempur pasukan Inggris yang ada di stasiun kereta api trem OJS Joyoboyo.

29 Oktober 1945
Perwira Inggis kolonel Cruickshank pihaknya telah terkepung , Mayjen Hawtorn dan Brigade ke-49 menelepon dan meminta presiden Soekarna agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pertempuran. Hari itu juga dengan sebuah perjanjian Presiden Soekarno dengan di dampingi wakilnya Muhammad Hatta terbang menuju Surabaya dan langsung turun ke jalan-jalan meredakan situasi perang.

30 Oktober 1945
Gencatan senjata di capai kedua pihak laskar arek-arek Surabaya dan pasukan Inggris di sepakati di adakan pertukaran tawanan. Pasukan Inggris mundur ke pelabuhan Tanjung Perak dan Darmo (kamp Interniran) dan mengakui eksistensi Republik Indonesia.

30 Oktober 1945
Sore hari usai kesepakatan gencatan senjata, rombongan biro kontak Inggris menuju ke gedung Internatio yang terletak di samping Jembatan Merah. Namun sekelompok pemuda Surabaya menolak penempatan pasukan Inggris di gedung tersebut. Mereka meminta pasukan Inggris kembali ke Tanjung Perak sesuai kesepakatan gencatan senjata, hingga akhirnya terjadi ketegangan yang menyulut baku tembak. Di tempat ini secara mengejutkan Brigjend Mallaby tertembak dan mobilnya terbakar.

3 1 Oktober 1945
Panglima AFNEI Letjen Philip Christison mengeluarkan ancaman dan ultimatum jika para pelaku serangan yang menewaskan brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri, maka pihaknya akan akan mengerahkan kekuatan militer darat, laut dan udara untuk membumi hanguskan Surabaya.

7-8 November 1945
Kongres umat Islam di yogyakarta mengukuhkan resolusi jihad, Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy'ari sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum AFNEI.

9 November 1945
Hadratussyaikh KH.Hasym Asy'ari sebagai komando tertinggi laskar Hizbullah menginstruksikan agar Hizbullah dari berbagai penjuru untuk memasuki Surabaya guna bersiap menghadapi kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah.

KH.Abas Buntet Cirebon di perintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiyai Abbas antara lain kiyai Wahab (Abdul Wahab Hasbulloh), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH.Mas Mansur) dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).

10 November 1945
Pertempuran kembali meluas menyambut berakhirnya ultimatum AFNEI Inggris mengerahkan 24.000 pasukan dari devisi ke-5 dengan persenjataan meliputi 21 tank Sherman dan 24 pesawat tempur dari Jakarta. Perang besar pun pecah, ribuan pejuang syahid, pasukan kiyai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris kocar kacir dan berhasil menembak jatuh 3 pesawat RAF Inggris.

Ikrar Santri Indonesia
dengan sekelumit artikel di atas mudah-mudahan dapat menjadikan dorongan dan semangat kita selaku santri.serta tak lupa kami ucapkan "SELAMAT HARI SANTRI" 22 OKTOBER 2016 Mari kita kobarkan Jihad untuk memerangi Kebodohan.

 
Share:

SOBAT KAMI

Tanya Jawab Masalah FIQIH

Nama

Email *

Pesan *

PENGUNJUNG

 

Recent Posts